Artikel ini terakhir diperbarui pada 12 November 2019

Kita pasti menggunakan sprei setiap hari. Dari 24 jam, kita menghabiskan rata-rata 6-8 jam di atas ranjang. Karenanya, sprei sangat berpengaruh pada kesegaran tubuh kita. Bisa dibayangkan apabila sprei di rumah terasa keras, kaku, apalagi panas (tidak sejuk), pastilah istirahat kita tidak nyaman. Jenis bahan sprei sangat menentukan kenyamanan istirahat kita. Berikut beberapa jenis bahan sprei yang banyak ditawarkan di pasaran saat ini :

POLYESTER 

Polyester terbuat dari serat sintetis, kainnya agak kasar, coraknya banyak, mudah diatur tidak mudah kusut, harganya pun cukup ekonomis. Kelebihan polyester adalah halusnya bahan ini. Bahan ini kurang cocok dipakai sebagai sprei, namun sangat nyaman dipakai sebagai selimut.

MICROFIBER / MICROTEX 

Microfiber adalah jenis polyester baru yang jauh lebih baik dan lembut daripada polyester biasa. Teksturnya sangat lembut namun tidak sedingin katun. Bahan ini kurang cocok dipakai sebagai sprei, namun sangat nyaman dipakai sebagai selimut.

KATUN VISCOSE ( CVC ) 

Kain CVC memiliki komposisi 40-60% katun dan sisanya 40-60% (tergantung grade CVC) bahan viscose atau rayon yang nyaman dan lembut. Bahan viscose biasanya dipakai untuk kaos, jaket, kemeja, dsb. Tekstur kain agak keras dibandingkan dengan sateen jepang, tenunan benangnya pun lebih sedikit (thread count lebih rendah) sehingga tenunan benangnya tidak rapat dan apabila diterawang akan sedikit tembus pandang. Mohon lihat artikel mengenai thread count untuk informasi mengenai jumlah tenunan benang. Sekalipun ini produksi lokal, apabila dicuci tidak berbulu malah sebaliknya akan terasa lebih lembut dan halus. Hanya saja warnanya mudah pudar.

PANCA 

Jenis bahan ini adalah buatan lokal Indonesia. Komposisinya terdiri dari 50% Katun dan 50% Polyester. Warna-warnanya terlihat lebih terang dan solid karena kandungan polyesternya yang cukup banyak. Untuk motif-motif yang memiliki warna tebal, bahan terasa lebih kaku. Produsen bahan panca antara lain adalah STAR, FORTUNA, NIKITA, BATAMTEX, dll. Jenis bahan ini cukup banyak diminati karena harganya yang cukup miring dan kualitas lebih baik dari bahan full Polyester. Thread Count (TC) bahan ini biasanya berkisar 144 sehingga kurang rapat.

CATRA dan RENETTE 

Selain Panca, produsen lokal juga membuat jenis kain dengan kadar katun yang sedikit lebih banyak yaitu dengan merk Catra dan merk Renette. Perbandingan komposisinya adalah katun 60% dan polyester 40% sehingga terasa sedikit lebih halus dan lemas dibanding jenis Panca. Thread Count (TC) bahan ini juga berkisar 144 sehingga kurang rapat.

CANON atau KATUN CHINA 

Canon atau sering juga disebut Katun China merupakan bahan katun campuran import dari China dengan kualitas yang lebih rendah dibanding Katun Satin atau yang sering disebut dengan Katun Jepang. Canon menggunakan komposisi 75% katun dan 25% polyester.

KATUN LOKAL (100% KATUN) 

Dulu, katun lokal terbuat dari 100% katun. Tingkat kenyamanan atau kualitasnya bergantung pada kerapatan benang (Thread Count / TC) yang membentuk kain tersebut. Umumnya bahan yang ada dipasar mempunyai kerapatan 150 TC. Angka TC yang lebih tinggi menunjukkan kerapatan yang lebih tinggi dan lebih nyaman dipakai. Selain itu, warna juga mempengaruhi tingkat kelembutannya. Bahan yang sebagian besar berwarna putih terasa lebih lembut daripada bahan yang berwarna-warni.

Akan tetapi, harus selalu berhati-hati dalam memilih bahan full katun, karena hampir semua penjual bahan menyatakan bahwa produk mereka adalah 100% katun, padahal sebenarnya kualitas katun campuran. Bahan yang mengandung 100% katun terasa lebih lemas dan mudah kusut bila dipegang. Bahan pewarna yang dipakai pun cenderung lebih baik, terlihat dari pori-pori kain yang tidak tertutup oleh pewarna dan masih tampak jelas.

Pada awalnya, cukup banyak produsen lokal di Indonesia yang membuat bahan sprei dengan kadar 100% katun seperti Bintang Agung, Renette, dll. Bahkan kualitas bahan katun lokal cukup bersaing di pasar internasional. Akan tetapi beberapa tahun terakhir, seiring dengan membanjirnya produk-produk katun dari China dan Taiwan, katun lokal menjadi kurang dapat bersaing dikarenakan biaya produksi yang cukup tinggi (terutama dari upah buruh). Hal ini menyebabkan harga yang ditetapkan oleh produsen lokal menjadi lebih mahal.

Untuk tetap dapat bertahan dalam bisnis bahan sprei, produsen lokal terpaksa bermain di pasar yang lain yaitu dengan sedikit menurunkan kualitas bahan (mencampurnya dengan bahan lain, seperti polyester) sehingga menghasilkan jenis kain, seperti Panca, Catra, Renette, CVC dll. Oleh karena itu, saat ini sudah sangat jarang katun lokal yang memiliki komposisi 100% katun dengan thread count yang baik.

KATUN JEPANG 

Saat ini, istilah katun jepang dipakai untuk seluruh jenis kain berbahan 100% katun (sama sekali tidak ada campuran dengan polyester / bahan lainnya) dengan kerapatan benang paling sedikit 180 TC. Brand sprei Leven Cotton mempelopori jaminan penggunaan bahan 100% katun untuk produk bedding di Indonesia. Produknya menggunakan kerapatan benang 200 TC sehingga sangat nyaman dan kuat untuk dipakai sehari-hari. Mohon lihat artikel mengenai thread count untuk informasi lebih lanjut mengenai thread count.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share this:

Kupon Diskon Rahasia & Eksklusif

Dikirimkan via email untuk pelanggan newsletter Leven Cotton