Sustainability Sprei Katun Dibanding Serat Bambu / Lyocell
Saat ini, serat bambu dan lyocell terbilang sangat terkenal. Bukan hanya sebagai sebagai alternatif katun yang lebih nyaman, namun juga disebut lebih ramah lingkungan.
Lyocell adalah kain yang berasal dari serat regenerasi yang berasal dari kayu, dan merupakan generasi ketiga dari rayon. Berikut penjelasan mengenai tiga generasi dari rayon:
Sementara itu, di Indonesia masih banyak sekali pihak yang mengaku menggunakan lyocell asli, padahal faktanya:
- Bukan lyocell asli, melainkan hanya modal rayon yang tidak ramah lingkungan karena proses produksinya tidak closed loop
- Lyocell telah dicampur dengan polyester, sehingga sudah tidak murni dan malah menghasilkan limbah plastik
Kelemahan Serat Bambu / Lyocell
Serat ini memiliki beberapa keunggulan, seperti kekuatan, kehalusan, dan kemampuan menyerap keringat. Namun, lyocell juga memiliki dua kelemahan besar yang perlu diperhatikan, yaitu:Kekuatan Yang Rendah
Tingkat kekuatan terhadap abrasi (gesekan) yang sangat rendah dibandingkan katun. Selama lyocell dipakai tidur, akan terkena gesekan tubuh terus menerus yang menyebabkan lyocell cepat rusak.
Berdasarkan grafik oleh Tyagi, et al. dari Indian Journal of Fibre & Textile Research 2013 di atas, ditemukan bahwa:
- Tingkat abrasi lyocell mencapai 30% hanya dengan sekitar 120 siklus abrasi, dan mencapai 100% dengan 327 siklus abrasi.
- Tingkat abrasi katun mencapai 30% dengan sekitar 1200 siklus abrasi, dan mencapai 100% dengan 2168 siklus abrasi
Lebih Lembab dan Lepek di Iklim Tropis
Banyak konsumen yang mengatakan bahwa bahan lyocell terasa lepek/lembab di pagi hari, sehingga tidak nyaman jika dipakai untuk tidur. Apalagi Indonesia beriklim tropis, yang mana kelembaban udaranya tinggi.
Dibandingkan dengan katun, lyocell menyerap kelembaban 50% lebih tinggi. Hal ini juga diungkapkan oleh Sleep Foundation yang menyebutkan “moisture wicking” sebagai salah satu kekuatan katun.
Pada Lyocell, kain ini akan semakin sensitif jika terkena abrasi di saat kondisi sedang lembab/basah (misal: terkena gesekan tubuh saat tidur di iklim yang lembab). Hal inilah yang akan menyebabkan pilling (gumpalan) dan membuat struktur kain rusak dengan cepat.
Kain Katun Lebih Baik
Dari kedua hal di atas, dapat disimpulkan bahwa katun memiliki karakter kain yang jauh lebih kuat dan tahan lama dibandingkan lyocell, sehingga sepanjang masa hidupnya, katun memberikan dampak lingkungan yang jauh lebih rendah karena konsumen tidak perlu terlalu sering membeli sprei baru.
Selain itu, berdasarkan studi mengenai abrasi di atas, dapat dikatakan bahwa katun dapat bertahan sekitar 6-10 kali lebih lama dibandingkan lyocell.
