Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air

Dalam bidang pertanian, penggunaan air sangat penting untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Namun, tidak semua tanaman memiliki kebutuhan air yang sama. Menurut data statistik, sektor pertanian menghabiskan sekitar 73% dari sumber daya air yang tersedia di dunia, namun hanya 3% yang digunakan untuk budidaya kapas. Ini menunjukkan bahwa tanaman kapas relatif hemat air dibandingkan dengan tanaman lainnya.

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Salah satu alasan mengapa sprei katun lebih ramah lingkungan daripada makanan adalah karena sprei katun memiliki masa pakai yang lebih lama. Sprei katun dapat digunakan berulang kali selama bertahun-tahun tanpa perlu dibuang atau diganti. Sedangkan makanan hanya dapat dikonsumsi sekali dan kemudian menjadi sampah organik yang membutuhkan air untuk terurai. Oleh karena itu, 1 kg sprei katun sebenarnya lebih hemat air daripada 1 kg makanan, jika dilihat dari sudut pandang siklus hidupnya.

Katun adalah salah satu tanaman yang mengonsumsi air cukup tinggi, tetapi tidak termasuk dalam kategori tanaman yang paling membutuhkan air. Berikut ini adalah data konsumsi air untuk beberapa tanaman yang sering ditanam di Indonesia:

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​
Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Sprei katun memiliki keunggulan dalam hal ketahanan dan kenyamanan. Sprei katun dapat bertahan hingga 5 tahun atau lebih, sedangkan sprei microtex dan lyocell biasanya hanya bertahan sekitar 3 tahun. Sprei katun juga lebih lembut dan menyerap keringat, sehingga memberikan sensasi tidur yang nyaman. Meskipun sprei katun membutuhkan lebih banyak air untuk produksinya, namun hal ini dapat diimbangi dengan masa pakainya yang jauh lebih panjang dari sprei microtex dan lyocell. Oleh karena itu, sprei katun adalah pilihan yang tepat untuk Anda yang mengutamakan kualitas dan keberlanjutan.

Ukuran pemakaian air untuk katun adalah ukuran yang hanya mencakup tahap produksi dari bahan baku hingga produk jadi, tanpa memperhitungkan tahap penggunaan dan pembuangan. Ukuran ini kurang tepat untuk produk yang tahan lama, karena tidak mencerminkan dampak lingkungan sepanjang siklus hidupnya.

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Namun tetap saja, pemakaian air untuk menanam katun harus terus ditekan sehingga semakin ramah lingkungan.

Jika dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, saat ini katun diproduksi lebih banyak dalam per hektar lahan tanpa peningkatan konsumsi air. Hal ini dikarenakan perkembangan dari teknologi irigasi serta penggunaan bioteknologi Bt Cotton.

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Tanaman katun merupakan jenis tumbuhan yang tahan akan kekeringan dan dapat bertahan hanya dengan curah hujan saja tanpa irigasi.

Sebagai contoh, di Amerika serikat, hanya 5% dari ladang katun yang diirigasi secara sepenuhnya; 31% lainnya menerima tambahan irigasi, dan 61% tidak menggunakan irigasi sama sekali.

Di bagian dunia lainnya, seperti di India dan China, banyak ladang katun yang menggunakan irigasi, namun hal ini memberikan peningkatan 400% dari produktivitasnya. Karena sifat katun yang tahan kekeringan, katun dapat tumbuh di tempat/iklim di mana tanaman lain tidak dapat tumbuh. Hal ini membuat tanaman katun menjadi sumber makanan dan serat yang penting.

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Berbeda dengan tekstil sintetis seperti microtex, seperti tanaman lainnya yang dapat diperbarui (renewable natural resources), katun memerlukan air untuk tumbuh.

Semua air yang digunakan oleh tanaman katun menguap dan kembali ke ladang lainnya sebagai curah hujan. Proses ini menjadi bagian dari siklus air dunia secara natural²³

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Penting diingat bahwa katun organik tidak memerlukan lebih sedikit air dibandingkan katun non-organik.

Catatan: Selain katun, tekstil lain yang dibuat dari bahan natural adalah linen dan serat bambu/lyocell. Namun, jika dibandingkan dengan linen dan serat bambu/lyocell, katun menggunakan lebih banyak air dalam proses tumbuhnya.

Alasan lain mengapa katun mendapatkan reputasi yang buruk mengenai pemakaian air adalah karena penggunaan air yang tidak bertanggung jawab dalam penanaman katun di Asia tengah. Laut Aral di Uzbekistan hampir kering dan penanaman katun dikaitkan secara langsung dengan kekeringan Laut Aral tersebut.

Sustainability Katun Konvensional: Penggunaan Air​

Seperti yang diungkapkan oleh Brett Mathews di Apparel Insider, sebenarnya masalahnya bukan karena katun, namun bagaimana mengalokasikan sumber daya dengan baik. Tanaman yang memerlukan konsumsi air yang besar tidak boleh ditanam di daerah yang tidak dapat mendukungnya.

Setelah dilihat secara keseluruhan dan perbandingan dengan tanaman lainnya, pernyataan bahwa tanaman katun memerlukan sangat banyak air tidaklah 100% benar, terutama hype yang dimunculkan di internet. 

Ada kemungkinan pemberitaan ini muncul karena persaingan dagang dengan serat sintetis (misalnya: microtex), dengan serat pesaing katun seperti lyocell, ataupun dengan katun organik. 

[elementor-template id="7113"]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *